Langsung ke konten utama

Postingan

Rumah Sajak-sajakmu

"Aku bosan. Beri aku buku puisi yang menarik." Tiba-tiba seorang laki-laki mengirim pesan begitu. Saya kirimkan beberapa buku digital buatnya. Dia lantas sambat, "Aku tidak menulis dan jengah membaca." Hmm. Kalimat yang akrab. Saya langsung sarankan agar ia mencari rekan membaca dan menulis. Ya, to the point saja. Saya paham betul betapa benar bahwa kita tidak sanggup sendirian meskipun puisi, faktanya, diketik dengan mandiri dan sunyi. Dia malah ngeles . Dia bilang itu sulit. Ibarat mencari partner hidup. Waduh! Sebenarnya, iya juga, sih... Saya tawarkan agar memulai dari orang terdekatnya dulu. Pacar -mungkin. Dia layak mengusahakan agar kekasihnya menjadi rumah bagi sajak-sajaknya. Sebab saya pun menulis tidak bisa menepikan kebutuhan bahwa puisi saya butuh rumah untuk pulang. Butuh pembaca setia. Bahwa sangat menyiksa ketika orang terdekat kita ternyata tidak bisa menjadi wadah kerumitan yang selalu muru ini. Kita butuh seseorang yang menghargai ...

Zona Merah

Barangkali memang, sejarah tidak terjadi setiap hari. 24 Maret 2020, Ujian Nasional untuk semua jenjang sekolah ditiadakan.  Kita terancam membeku sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mendadak kita semua menjelma serumpun anak kembang Ester, menanti musim panas yang tiap pagi makin terasa jauh. Makin terasa, tidak akan datang. (4 hari lalu, Surabaya dilabeli sebagai zona merah persebaran Korona. Kemarin malam, peta sebaran per kelurahan diluncurkan. Sejak 4 bulan lalu saya sudah menduga wabah ini akan serius. Sayang, saya tidak menyiapkan diri bahwa di negeri ini, barangkali, saat itu cuma saya yang menganggapnya serius) 27 Maret 2020, Hari Teater Dunia. Merapi erupsi. Atas inisiatif yang serampangan, rombongan teater saya menggarap proyek kilat, rekaman akustik drama. Naskah turun pukul 2 siang. Laporan terkini penderita korona 893 orang. Dua jam kemudian jadi 1046 orang. 28 Maret 2020, kita tidak merayakan Earth Hour. Tidak ada dunia hari ini. Merapi erupsi lag...

Profesi Penyair di Masa Depan

Seorang teman tiba-tiba mengirim pesan pendek: Menurutmu profesi penyair di masa depan seperti apa? Saya jawab cepat, tergantung situasi kritiknya. Tapi setelah mengirim itu saya jadi membayangkan seluruh dunia. Saya barangkali bukan orang yang kapabel untuk memberi penilaian bagaimana posisi dan peran sastra, khususnya puisi hari ini, dalam ruang universal. Saya hanya melihat sebagian kecil dari lingkaran superkecil. Saya percaya bahwa manfaat sastra ada pada laku tafsir, laku kritik, baik yang wujudnya esai, komentar, atau karya sastra baru. Tafsir, kata seorang kritikus, terjadi pada tataran isi, bukan bungkusnya. Sementara itu, kecenderungan visual telah menggeser pandangan kita ke hal-hal yang berbau "perbungkusan". Lalu, apakah tafsir masih ada di situ? Saya optimis tapi sangsi. Ukuran tafsir adalah ukuran hikmah atau fungsi reflektif yang memberi pengaruh tertentu pada penafsir. Efek kepada pembaca. Sejauh apa karya sastra memberi efek bagi pembacanya, dan se...

Overload

Lemari baju saya tidak bisa menampung baju lagi. Penuh, sementara di kamar masih ada segunung pakaian kotor yang belum saya cuci. Namun keinginan beli baju lagi, selalu ada. Selalu ada. Kepala saya beberapa hari ini juga begitu. Over-aktif. Sudah tidak bisa menampung pikiran lagi. Namun kata-kata baru selalu ada. Saya punya blog, menulis 2 buku harian, berbagi informasi di WhatsApp dan 2 akun Instagram, tetapi kata-kata terus ada. Saya bicara serius tentang suatu topik dengan 4 orang sekaligus via chat. Namun kata-kata masih ada. Saya nonton film untuk meredam kata-kata. Pukul 11 malam, saya tidur. Dan dalam mimpi kata-kata ada. Saya bangun pukul 6 dengan kepala penuh kata. Rasanya ingin terus bicara, merilis kata-kata dalam kepala ini. Barangkali isi kepala saya adalah sebuah kamus yang harus dicuci. Saya tahu saya butuh puisi. Namun dalam situasi begini, menulis puisi hanya akan menjadi bak pembuangan. Sementara tubuh dan psikis saya belum siap menyambut puisi. Sebab isinya itu...

Lanskap Surabaya Hujan

Mengalami "cuaca buruk" Surabaya dalam seminggu terakhir, saya seolah menemui kekasih yang asing. Kemarin, pukul 8 malam, saya menyeberang -pulang- dari arah Barat kota ke Utara kota, menempuh hujan dan angin. Entah malam, entah hujan, yang menggelapkan Surabaya sepanjang perjalanan. Ruas-ruas jalan protokol lengang. Dan karena itu, jadi kelihatan lebih lebar dari biasanya. Barangkali juga karena itu, saya merasa menghadapi kota yang berbeda. Surabaya yang lain. Melintasi kawasan kota tua, gedung-gedung seperti miniatur diorama. Hujan mempertegas garis yang dibentuk sorotan lampu kota. Serbuk air dalam serbuk cahaya. Taburan yang ganjil. Tiap kali lewat di bawah sorot lampu, pandangan saya menangkap gerak lambat air yang jatuh. Serentak. Padu.  Dari kota tua ke kawasan Pecinan, gerai-gerai toko dan perkantoran tutup seolah merampas ingatan tentang siang hari yang sibuk. Saya lewat sana sebelumnya, beberapa jam yang lalu. Kini orang-orang tiada. Menghilang. Lenyap....

Menghiburmu

Selamat pagi, Kekasihku. Iklim turun ke tangan kita dalam rupa musim, dan seperti musim hidup memeluk kita dengan tangan yang hangat juga yang dingin. Apakah sedang musim dingin di situ? Sebentar. Sebentar saja. Apakah musim, Kekasihku? Hakikatnya, hawa. Angin, yang barangkali dari gunung, dari langit, atau yang lebih tinggi dari langit, kadang suka kubiarkan masuk lewat jendela. Aku tidak membayangkanmu, sebab kau bukan lagi bayangan. Kau tiada. Sepenuhnya. Dan dari ketiadaan itu aku menjumpai sesuatu lain yang lebih agung: keajaiban. Seperti musim. Ini adalah sebuah surat. Simpanlah. Seperti selama paruh musim kau menyimpanku dari seluruh dunia. Merahasiakanku. Simpanlah. Kita telah melampaui pertemuan. Telah melampaui perpisahan. Tak ada lagi yang berhak kita taklukkan. Kesedihan terlalu remeh. Telah kita tundukkan. Telah aku tundukkan. Di langit, aku temukan warna merah muda yang suram tapi sekaligus lembut. Matahari beranjak dari arah kau datang. Tepat di tempatmu. Adakah ...

Studi Sastra dalam Revisi

Hari ini saya baca konsep inovasi pendidikan tinggi menteri pendidikan yang baru. Saya pribadi memang lebih mudah percaya pada laki-laki ganteng. Jadi, inovasi yang sifatnya akomodatif, efektif, efisien macam itu, sudah tentu mengambil hati saya. Namun sepertinya kecemerlangan semacam itu tetap sulit dikejar oleh masyarakat arena sastra. Saya jadi ingin ngomel tidak serius untuk hal serius begitu. Sastra yang akomodatif buat situasi kekinian. Seharusnya akan jadi seru. Cuma itu loh, oknumnya, paling kolot dan nggak visioner kalau dibanding bidang lain. Keilmuan lain mengambil strategi hari ini dengan pengandaian masa depan. Tapi orang sastra sedikit sekali yang begitu. Represi dan -anehnya- kenyamanan menghapus orientasi bahwa meski kamu mati besok, dunia masih ada. Dan peninggalanmu: puisimu, cerpenmu, novelmu, lirik lagumu, juga bertanggung jawab atas kelangsungan masa depan. Siapa yang menjamin bahwa tulisanmu hari ini akan semata memberi energi positif kelak? Seseorang bisa...

Hopla