Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label noexit theatre

Elliot: Drama Psikotik-Realis dan Kegilaan Kita yang Lembut

Catatan untuk Naskah Drama "Elliot" karya Dyah Ayu Setyorini. Pementasan perdana naskah "Elliot" oleh No-Exit Theatre, Mei 2019 Teater mewujud pada seutas tali yang menegang antara nilai dan realita nilai. Ia menyentuh langsung dan ikut tergores di setiap tarikannya. Ia mengancam kita di panggung itu, saat kita justru menjadikannya jalan menyelamatkan diri. Seorang perempuan hampir menyerah, tidak sanggup menguasai kecemasannya saat dipercaya untuk memainkan tokoh Emma, tokoh utama dalam naskah "Elliot" karya Dyah Ayu Setyorini. "Aku takut gila, seperti Emma," katanya pelan sambil menahan tawa dan malu. Dalam khasanah naskah drama Indonesia, banyak naskah yang menghadirkan sosok orang gila sebagai tokoh. Namun sepanjang pengetahuan saya, belum ada yang berusaha secara utuh menghadirkan kegilaan dalam kepala tokoh ke ruang riil panggung sehingga penonton merasakan citra nyata (realis) atas hal-hal psikologis. Akar naskah ini ...

Tarik layarnya, Luffy!

Di tengah badai, sebuah kapal memang harus menurunkan kain layar. Agar angin tidak merusaknya dan kapal bisa kembali berlayar setelah badai reda. 15 Desember 2018 Kami akan mengingat bahwa jalan ini telah kami tandai sebagai sebuah pintu tertutup. Kami telah dengan sendirinya masuk dan tak dapat keluar. Di balik pintu itu kenyataan-kenyataan, kebenaran-kebenaran yang tidak bisa diterima oleh orang lain. Kami simpan sendiri. Sebab kami bukan bergerak untuk kebenaran-kebenaran itu. Kami bergerak untuk sebuah rahasia yang tidak kami tahu: di ujung dunia sana! Saya tidak pernah membayangkan akan menempuh jalan semacam ini. Tapi saya telah melihat, dunia dipenuhi godaan-godaan, prasangka yang manja, api yang disulut oleh orang lain. Hari ini menandai sebuah pencapaian proses kami sebagai tim. Orang-orang bicara dan tidak mendengar. Keterbatasan dan pengetahuan kami memaksa kami memilih bungkam. Ada ternyata, suara-suara yang bisa merampas jiwa satu-persatu di antara kami selama per...

Hopla