Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label iwansimatupang

Sebuah Teknik Memahami

"Tamat? Betapa kerap tamat justru berarti permulaan?... "  -  Orang Tua, Bulan Bujur Sangkar, Iwan Simatupang Dialog adalah bahasa yang bergerak dalam siklus. Kita sulit mengingat lagi titik awalnya, kenapa kita membincangkan ini? Tiba-tiba kata-kata mengantar kita ke sebuah tempat. Kadang asing kadang akrab.  Di mana pun kita berakhir, setelah dialog, marka yang diciptakan kata-kata dalam kepala kita ini tidak pernah selesai meniti lintasannya. Dari tempat ke tempat, hidup menjadi. Dari dialog ke dialog. Dialog, di-, menandai kehadiran (setidaknya) dua sudut pandang. Maka di dalam perjalanannya dialog  membekaskan diri pada masing-masing juga. Selalu ada yang tersisa untukmu maupun untukku. Apa yang tersisa untukmu bisa berbeda dengan apa yang tersisa untukku. Dan seperti itu: tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keduanya. Sebab, dialog adalah bahasa yang bergerak dalam siklus. Dialog yang baik, akan membawa kita ke suatu tempat yang sela...

Catatan tentang Cerpen "Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu"

Jika ditanyakan seorang prosais Indonesia yang mungkin berpengaruh besar pada ruang renung saya, salah satu jawabannya adalah Iwan Simatupang. Saya tidak banyak membaca, tapi dua karya Iwan, Ziarah (novel) dan Tegak Lurus dengan Langit (kumcer), langsung membangun kamar khusus di kepala saya sejak pertama kali membacanya delapan tahun lalu. Satu yang paling sering saya baca ulang adalah cerpen "Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu" (dalam  Tegak Lurus dengan Langit)  . Saya ingat meminjam buku di ruang baca kampus. Jilidannya sudah rusak. Saya baca cerpen itu di kantin fakultas, di bawah pohon mangga, di sisi sungai yang mengalir dari selatan ke utara. Lalu hati saya mendadak gerowak di akhir cerita. Ada kegelapan pada dua tokoh yang gagal saya jangkau. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Seorang suami dan seorang istri. Sehampar, seceruk, setusuk warna labirin dalam negosiasi dan diplomasi yang asing, halus, dan tidak terbantah antara mereka. Saya tidak pernah tahu b...

Hopla