Langsung ke konten utama

Overload

Lemari baju saya tidak bisa menampung baju lagi. Penuh, sementara di kamar masih ada segunung pakaian kotor yang belum saya cuci. Namun keinginan beli baju lagi, selalu ada. Selalu ada.

Kepala saya beberapa hari ini juga begitu. Over-aktif. Sudah tidak bisa menampung pikiran lagi. Namun kata-kata baru selalu ada.

Saya punya blog, menulis 2 buku harian, berbagi informasi di WhatsApp dan 2 akun Instagram, tetapi kata-kata terus ada. Saya bicara serius tentang suatu topik dengan 4 orang sekaligus via chat. Namun kata-kata masih ada. Saya nonton film untuk meredam kata-kata. Pukul 11 malam, saya tidur. Dan dalam mimpi kata-kata ada. Saya bangun pukul 6 dengan kepala penuh kata. Rasanya ingin terus bicara, merilis kata-kata dalam kepala ini. Barangkali isi kepala saya adalah sebuah kamus yang harus dicuci.

Saya tahu saya butuh puisi. Namun dalam situasi begini, menulis puisi hanya akan menjadi bak pembuangan. Sementara tubuh dan psikis saya belum siap menyambut puisi. Sebab isinya itu, kamus yang harus dicuci. Bagaimanapun puisi adalah kata-kata yang bersih. Seharusnya saya datang ke sebuah diskusi yang galak. Bicara panjang sampai semua kata terbebaskan atau  bungkam di pojokan sebab akhirnya menyadari tidak ada kata yang berarti perlu disampaikan. Saat itu, saya akan punya tempat untuk menyambut puisi. Di sebuah lemari yang lowong dan lega.

Saya harus segera menemukan tempat pencucian untuk segala ini.

2020

Komentar

Hopla

Postingan populer dari blog ini

Kepada Kekasihku yang Jauh

Kalau mungkin kau berada di bawah langit, gerakan awan yang menarik angin ke tanganmu, dan daun-daun yang bicara besertanya, adalah tanda kerinduanku yang diam, sekian lama terabai di udara. Ia telah demikian sabar, dilelehkan dari waktu ke waktu. Ia adalah musim yang berjalan mencari sebuah kota. Tanpa arakan. Sebab dunia meninggalkannya seperti seorang anak yatim. Kalau mungkin di bawah langit ini, kau memandangnya suatu kali. Kita telah saling bertemu di situ, dan tidak saling mengenal nama dan asal. Dan barangkali tanpa sengaja aku meninggalkanmu dalam seribu pertanyaan.  Kekasihku, yang berdiam di mata angin, adakah kau dibimbangkan matahari? Terbatas oleh utara, selatan, timur, dan barat. Aku di sini, berjalan semakin dekat padamu dari seluruh penjuru. Bila mungkin kakimu diikat oleh ibu yang sama denganku, kita adalah jarak paling jauh yang tercatat di bumi. Tanah dan lautan yang juga melekat bersama dengan cinta kita: ada dan belum ada, kita telah membayangkannya sekian l...

Bertemu 'U' Ganteng

Saya memanggil namanya dan dalam sebuah diskusi dengan rekan perempuan saya, kami menambahkan kata 'Ganteng' untuk mengenalinya. Bukan karena dia ganteng tapi sebab kami melihat dia memiliki sesuatu. "Kamu itu laki-laki potensial. Dunia tidak tahu, tapi kami tahu."kelakar kami dulu. Ternyata kami tidak saling bertemu selama dua tahun. Kemarin saya terjebak di kampus karena harus menunggu seorang penyair yang tidak bisa dipastikan datang-hilangnya. Sementara 'U' Ganteng, laki-laki yang dua tahun lebih muda dari saya itu muncul di kampus lagi setelah pulang dari pengembaraan, untuk menyelesaikan sesuatu. Pengembaraan, itu diksi yang pantas. Dia ceritakan sedikit kesibukan formalnya, usaha-usaha dan protesnya buat dunia. "Kamu lebih kurus. Lebih hitam. Tapi garis wajahmu itu, lebih tegas dibanding ingatan terakhirku," saya mengomentari figurnya sambil membatin: matamu itu, lebih matang. Lebih laki-laki. Dia tertawa lalu bertanya masakah saya p...

Norwegian Wood Sadness

Kesedihan, tidak pernah saya selami demikian dingin dan putih. Beberapa waktu lalu seorang teman merekomendasikan film Norwegian Wood (2010) garapan sutradara Tran Anh Hung. Sebuah pusaran ke dasar laut yang penuh dengan salju, hutan beku, dan jalan-jalan sepi. Dahi saya mengernyit di menit akhir saat Watanabe, tokoh utama pria, memukul-pukulkan tubuhnya ke tebing karang. Menahan kesakitan luka yang tidak kelihatan. Ada film lain, dengan dingin dan metrum yang mirip, A Man and a Woman (2016), salah satu film favorit saya. Meski bukan film yang wah, saya kadung jatuh cinta pada cara sutradara membatasi konflik perselingkuhan dalam film itu. Juga pada bagian akhirnya. Tempo yang tidak membuat saya kecewa. Saya bahkan mengingat lagu latarnya hingga hari ini, du dudu dudu, dudu dudu... Tapi beberapa peristiwa menjelmakan Norwegian Wood nyata di depan saya. Hari ini saya katakan, kesedihan Watanabe, gunung beku yang ia bentur-benturkan itu, sangat saya pahami. Kesedihan yang justru b...