Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label teater

Elliot: Drama Psikotik-Realis dan Kegilaan Kita yang Lembut

Catatan untuk Naskah Drama "Elliot" karya Dyah Ayu Setyorini. Pementasan perdana naskah "Elliot" oleh No-Exit Theatre, Mei 2019 Teater mewujud pada seutas tali yang menegang antara nilai dan realita nilai. Ia menyentuh langsung dan ikut tergores di setiap tarikannya. Ia mengancam kita di panggung itu, saat kita justru menjadikannya jalan menyelamatkan diri. Seorang perempuan hampir menyerah, tidak sanggup menguasai kecemasannya saat dipercaya untuk memainkan tokoh Emma, tokoh utama dalam naskah "Elliot" karya Dyah Ayu Setyorini. "Aku takut gila, seperti Emma," katanya pelan sambil menahan tawa dan malu. Dalam khasanah naskah drama Indonesia, banyak naskah yang menghadirkan sosok orang gila sebagai tokoh. Namun sepanjang pengetahuan saya, belum ada yang berusaha secara utuh menghadirkan kegilaan dalam kepala tokoh ke ruang riil panggung sehingga penonton merasakan citra nyata (realis) atas hal-hal psikologis. Akar naskah ini ...

Sebuah Teknik Memahami

"Tamat? Betapa kerap tamat justru berarti permulaan?... "  -  Orang Tua, Bulan Bujur Sangkar, Iwan Simatupang Dialog adalah bahasa yang bergerak dalam siklus. Kita sulit mengingat lagi titik awalnya, kenapa kita membincangkan ini? Tiba-tiba kata-kata mengantar kita ke sebuah tempat. Kadang asing kadang akrab.  Di mana pun kita berakhir, setelah dialog, marka yang diciptakan kata-kata dalam kepala kita ini tidak pernah selesai meniti lintasannya. Dari tempat ke tempat, hidup menjadi. Dari dialog ke dialog. Dialog, di-, menandai kehadiran (setidaknya) dua sudut pandang. Maka di dalam perjalanannya dialog  membekaskan diri pada masing-masing juga. Selalu ada yang tersisa untukmu maupun untukku. Apa yang tersisa untukmu bisa berbeda dengan apa yang tersisa untukku. Dan seperti itu: tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keduanya. Sebab, dialog adalah bahasa yang bergerak dalam siklus. Dialog yang baik, akan membawa kita ke suatu tempat yang sela...

Tarik layarnya, Luffy!

Di tengah badai, sebuah kapal memang harus menurunkan kain layar. Agar angin tidak merusaknya dan kapal bisa kembali berlayar setelah badai reda. 15 Desember 2018 Kami akan mengingat bahwa jalan ini telah kami tandai sebagai sebuah pintu tertutup. Kami telah dengan sendirinya masuk dan tak dapat keluar. Di balik pintu itu kenyataan-kenyataan, kebenaran-kebenaran yang tidak bisa diterima oleh orang lain. Kami simpan sendiri. Sebab kami bukan bergerak untuk kebenaran-kebenaran itu. Kami bergerak untuk sebuah rahasia yang tidak kami tahu: di ujung dunia sana! Saya tidak pernah membayangkan akan menempuh jalan semacam ini. Tapi saya telah melihat, dunia dipenuhi godaan-godaan, prasangka yang manja, api yang disulut oleh orang lain. Hari ini menandai sebuah pencapaian proses kami sebagai tim. Orang-orang bicara dan tidak mendengar. Keterbatasan dan pengetahuan kami memaksa kami memilih bungkam. Ada ternyata, suara-suara yang bisa merampas jiwa satu-persatu di antara kami selama per...

Mimik dan Emotikon

Cinta dan kesedihan kita hanya seukuran emotikon. Bagi seorang aktor, garis-garis wajah bukanlah kerutan penuaan yang musti disamarkan dengan krim seharga 5 bahkan 30 juta. Garis-garis itu justru dicari. Dilatih untuk menampakkan diri dan menyampaikan diri. Garis-garis wajah adalah aset. Bahkan bila ia berada di sebalik topeng. Tidak ada aktor yang berkomunikasi dengan meninggalkan wajahnya. Mimik, jalinan garis-garis wajah itu, mengiringi tiap rangkaian pesan oleh tubuh secara keseluruhan. Ia tentu mewujud oleh teknik, tetapi terlebih dulu yang musti diingat adalah ia bukan kepalsuan apalagi kekosongan. Mimik lahir oleh penghayatan, emosi dan kesadaran yang saling kait seperti gir poros, menggerakkan tubuh wadag. Saya bertanya kepada seorang teman, kelahiran tahun 2000, "siapa orang paling seru yang kamu kenal?" Ia menjawab, "kakak laki-lakiku." Saya bertanya lagi, "siapa orang paling ekspresif yang kamu kenal?" Ia jawab, "mmm, kamu." Sung...

Kesiapan

Kesibukan teater sedang menyita saya. Ruang buat puisi, ada, tapi tidak ada. Sebab saya belum menyediakan waktu berpikir, menjawab: mengapa puisi harus tetap ada. Saya melihat orang-orang di sekitar saya dari hari ke hari. Semakin kehilangan harapan. Mungkin saya terlalu angkuh, melahirkan puisi adalah melahirkan diri saya sendiri. Apakah saya rela, melahirkan diri di tengah dunia yang terkutuk ini. Saya mungkin belum mengilhami kebijakan seorang ibu. Mengandung dan mengusahakan setengah mati kelahiran putranya. Mengapa saya harus menyerahkan putra saya kepada dunia ini? Kecuali alasan-alasan untuk memilikinya sendiri? Tidak. Itu alasan yang picik. Saya memang belum siap.

Eksil

H+1 Monolog "Tjoet Nja' Dhien" Ine Febriyanti di Surabaya Eksil. Kata 'eksil' dalam KBBI yang minim itu disetarakan dengan 'keluar'; 'terpinggirkan'. Umum sekali. Pendefinisian tersebut seolah menepikan ruang historis akan identitas dan keberadaan yang dilukai, di mana kata 'eksil' digunakan untuk menandai pembuangan seseorang dari komunal, rumah, tanah-airnya, khususnya pada era kolonial. Saya menyusur, dalam KBBI yang minim itu, kata 'eksil' memiliki satu bentukan morfologis saja, 'dieksilkan'. Ia pasif. Subjek-subjek yang ditandainya nirkuasa. Orang-orang buangan adalah orang-orang yang dilucuti, secara batin dan lahir. Cut Nyak Dhien (Tjoet Nja' Dhien) saya kenal dari uang kertas Rp. 10.000 pada era reformasi. Pelajaran sejarah di sekolah dasar hanya memberi informasi samar: Cut Nyak Dhien, ia prajurit perempuan, dari Aceh, seorang pahlawan. Tidak ada ingatan soal 'eksil' yang berarti. Tidak ada makna ...

Hopla