Langsung ke konten utama

Postingan

Tabah Sampai Akhir

Kakek saya seorang tentara angkatan laut. Berpuluh tahun lalu, ia di dalam kapal selam negara menggumamkan wira ananta rudira dalam hati. Tabah sampai akhir. Sambil awas kalau radar, yang besarnya memenuhi enam puluh persen ruang mesin itu, menangkap benda-benda ganjil. Tabah sampai akhir. Seandainya diselami, maka kalimat itu mungkin juga seperti samudra, yang biru namun hitam dasarnya. Dan kita bertaruh sampai batas dada kita menampung udara. Apa yang lebih membebani hidup ini selain ketabahan? Di antara kemungkinan yang mahaluas, kita berkali-kali menabrak dinding batas. Tampak dan tidak tampak. Kita merasakan sakitnya, merasakan darah kita sendiri. Dan apakah kita memilih menjelajahi rimba ini dengan tunduk pada rasa sakit, atau mengobatinya dalam kesenyapan, kita mengukur panjang bumi ini dengan kaki dan tangan kita. Suatu hari kita mengukur tinggi langit itu juga, dengan kaki dan tangan kita. Dan kita memanggul ketabahan di pundak. Sampai bongkok. Apakah ia akan menjelma s...

Catatan tentang Cerpen "Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu"

Jika ditanyakan seorang prosais Indonesia yang mungkin berpengaruh besar pada ruang renung saya, salah satu jawabannya adalah Iwan Simatupang. Saya tidak banyak membaca, tapi dua karya Iwan, Ziarah (novel) dan Tegak Lurus dengan Langit (kumcer), langsung membangun kamar khusus di kepala saya sejak pertama kali membacanya delapan tahun lalu. Satu yang paling sering saya baca ulang adalah cerpen "Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu" (dalam  Tegak Lurus dengan Langit)  . Saya ingat meminjam buku di ruang baca kampus. Jilidannya sudah rusak. Saya baca cerpen itu di kantin fakultas, di bawah pohon mangga, di sisi sungai yang mengalir dari selatan ke utara. Lalu hati saya mendadak gerowak di akhir cerita. Ada kegelapan pada dua tokoh yang gagal saya jangkau. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Seorang suami dan seorang istri. Sehampar, seceruk, setusuk warna labirin dalam negosiasi dan diplomasi yang asing, halus, dan tidak terbantah antara mereka. Saya tidak pernah tahu b...

Bunga Matahari

Di seberang sungai belakang kampus, saya melihat serimbun pohon bunga matahari. Saya sering duduk di sisi sungai itu, tapi selama dua bulan ini, sesuatu sering mengurung saya di kamar sendiri. Saya mendadak bahagia, siapa yang berbaik hati menanamnya di sana, di antara parkiran motor, semak, dan dinding bekas rumah dinas dosen yang luluh lantak. Langsung saja saya mengajak seorang teman untuk memetik bunga matahari itu. Ternyata di area parkir belakang kampus, tumbuh beberapa pohon juga. Berarti benar ada yang sengaja menanamnya di sana. Kami perlu berhati-hati dalam misi ini. Setangkai matahari gemuk memamerkan wajah pada kami. Aih, alangkah cantiknya. Kami petik sini petik sana. Sambil awas kalau-kalau seseorang menegur kami dari belakang. Saat merasa cukup, kami kumpulkan bunga matahari hasil petikan itu menjadi serangkai. Teman saya berkelakar, "sekarang aku siap jadi pengantin." Kami berjalan ke luar area parkir di saat yang sama seorang laki-laki tua melintas ...

Orang yang Membaca Puisi Gempa (1)

Seorang teman yang pasti sangat menyayangi saya (meski harus dipaksa dulu), menanyakan kabar puisi yang sebelumnya dia sarankan untuk direvisi. Untungnya sudah. Dia bisa ngambek kalau saya bilang belum, berpikir bahwa saya malas-malasan dan tidak mengindahkan kritik darinya. Dia tukang kritik. Si Tukang Kritik ini agaknya lebih tertarik pada salah satu puisi: Puisi Gempa. Sebelumnya dia mengaku tidak bisa menyentuh puisi itu karena puisi itu demikian penuh. Lalu setelah revisi pertama, ini yang disampaikannya: Kekasih yang minta dimutilasi ta? Saya bilang padanya tentang perbedaan dua subjek lirik yang muncul dalam puisi, ia dan kekasih.   Ia itu normal, kekasih tidak. Saya bertanya padanya, kenapa ada kekasih yang sedemikian menjengkelkan? Karena dia rasul dan tahu bakal nggak terpengaruh meskipun dunia hancur berkali-kali."Aku lho wis duwé omah nang surgo. Santeee." Gusti. Ada kekasih yang sepercaya diri itu. Saya jadi sebal pada si Tukang Kritik ini. Kenapa s...

Proyeksi Keberadaan

Makin tua saya makin gagap merespon orang asing. Semacam kehilangan mekanisme mencerna eksistensi orang lain. Apalagi pada momen-momen di mana saya sendiri bersentuhan langsung dengan ruang baru yang tidak mengijinkan pembacaan personal. Mungkin karena dalam situasi itu sebenarnya bukan orang lain yang gagal terproyeksi dalam kesadaran saya, tetapi lebih bahwa saya gagal menangkap proyeksi diri saya sendiri ketika berhadapan dengan mereka. Diri saya yang sebenarnya. Tidak nyaman berada dalam ruang yang berlapis-lapis ini. Dan orang lain membuat saya jauh dari diri saya sendiri. Saya tidak bisa dengan mudah menyerah dan terbuka. Sebab kepala saya selalu bekerja untuk membaca dan memberi makna atas sebuah kehadiran, dan saya sering kali menemukan sebuah kesia-siaan, kekosongan, tiap kali saya membaca seseorang. Sebuah keberadaan yang tidak penting. Saya menjadi otomatis bertahan di sisi saya, sekuat mungkin tidak terjerumus bersama mereka. 2019

: Puisiku

Puisiku, kau menanggung kesalahanku dan pergi sedemikian jauhnya. Aku ingin membawamu padanya atau kau ingin membawaku padanya, sudah tidak terbedakan. Aku ingin katakan bahwa cintamu sudah sampai. Cintamu sudah sampai tapi tidak dibukakan pintu. Dan bahwa aku dan kau harus berhenti di sana, kau tidak bisa menjadi tamu yang menunggu. Aku tidak boleh. Kepercayaanku menjadikan rasa malu pada Tuhan seandainya aku tidak mengusahakan diri. Dan tentu saja, kita sudah berusaha. Sudah. Tapi aku telah gagal membawamu pulang ke rumah, kepadanya. Dan mungkin kesedihan kita ini harus bungkam dan mengunci diri. Bahwa kita telah mengetuk seribu kali sampai terdengar ke dasar bumi, pandanglah dirimu. Pandanglah aku. Kita tidak bisa menemukan lagi, bagian tubuh yang tak dihuni luka perjalanan ini. Harus kita sudahi, menepilah. Menepilah dan biarkan aku meneguk air sungai. Menyelamkan kedua telapak kakinya yang berkelupasan. Memudarlah dari pintu itu. Seperti warna larut di laut. Seperti wangi lesap. S...

Hari Itu

Tiap orang asing yang baru saya kenal hanya selalu membuktikan bahwa yang terjadi hari itu semata tidak wajar. Hari itu, yang bertahan dalam memori paling luar dan paling dalam saya, muncul seperti pintu ajaib. Saya berada di sebuah tempat yang jauh, begitu saya buka: saya sampai di kamar saya sendiri. 2019

Hopla