Langsung ke konten utama

Postingan

Ketidaknormalan Baru

Selamat datang di bulan Juni. Sebuah akun Instagram menyebut: kita telah tiba di level 6 Jumanji. Barangkali memang retrograde yang terjadi di paruh akhir 2019 kemudian mengantar kita pada semacam pusaran timeskip. Kita ditahan entah untuk berapa lama. Saya pribadi belum siap untuk kejutan. Meski saya sudah pelan-pelan bergerak dari sebuah ladang rumput tempat rebah sepanjang siang, menghitungi awan dan burung yang lewat. Beberapa proyek saya kerjakan lagi dengan perasaan dan kesadaran yang "kembali". Tapi saya tidak sabar untuk membuka pintu dan mendapat jaminan penuh bahwa segalanya, semua, sudah kembali ke tempat semula. Kemudian saya akan sanggup menyambut ketidaknormalan lain dalam hidup saya seperti sedia kala. Sebab semua dimaknai ulang dari sini. Apakah saya siap memeluk mimpi dan harapan baru? Semangat dan kegigihan yang sebelumnya melekat bagai keringat dari kelenjar di bawah kulit saya sendiri, apakah masih bisa seasin itu? Apakah yang membuat seseorang mence...

Hati yang Baik

Keikhlasan, ketulusan, penerimaan, kerelaan, keesaan, cinta, pemberian, rasa percaya, kebaikan, penyerahan, semua, barangkali, sudah saya pelajari dalam dua puluh lima tahun ini, tetapi mendadak semua pemahaman dan pengetahuan itu hilang. Tuhan, barangkali, memberi saya kesempatan untuk menemukan ulang segalanya. Saya mengingat dengan baik tetapi hakikat dari ingatan itu lenyap entah ke mana. Seperti saya melihat seseorang yang memberi dengan tangan kanannya, lalu karena sedemikian ingin agar tangan kirinya tidak perlu tahu tentang pemberian itu, ia memotong tangan kirinya. Demi menjaga kemurnian pemberiaannya. Saya ingat kebenaran akan pertimbangan pilihannya itu tetapi saya tidak mampu lagi menyelami rasa sakit kehilangan tangan kiri. Lalu Tuhan memberi saya kesempatan untuk menemukan jawaban dari ingatan-ingatan yang cacat itu. Dan dari hari ke hari saya mengumpulkan kepingan. Saya berpikir bagaimana mungkin saya sanggup memotong tangan kiri saya sendiri. Tetapi ternyata dunia m...

Tenaga

Seolah saya melihat seorang anak terjatuh. Saya berteriak kepada seluruh dunia, "Tolong! Tolong anak itu! Tolong!" Saya ingat semua hal yang pernah saya yakini. Keteguhan. Saya bilang pada banyak orang, keajaiban akan datang dari apa yang kamu percayai. Yang kamu butuhkan hanya "percaya". Tetapi di sebuah cermin saya melihat bayangan diri saya yang kecil dan lemah. Yang tidak memiliki tenaga lagi untuk memegang apapun dengan dua tangannya. Saya bahagia melihat orang-orang jatuh cinta. Saya katakan pada mereka, cintailah. Hiduplah dengannya. Sekuat tenaga saya ingin seluruh dunia percaya pada cinta. Bahwa cinta itu menggerakkan sesuatu di luar kedua tangan kita. Tetapi saya, saya sendiri telah habis tenaga. Saya tidak punya daya untuk bangun tiap pagi dan berhalusinasi tentang kebahagiaan. Bagaimana mungkin orang yang tidak punya tenaga untuk meneguhkan diri lagi, hidup setiap hari dengan mencintai seseorang? Saya tidak punya tenaga untuk mempercayai cinta, tetap...

Seekor Kupu-kupu dalam Puisi

: penyair wahyu Aku membaca puisi di kegelapan malam hari, aku membaca puisi di tengah orang-orang sibuk, tapi suara dan kecerdasanku bagai radio 1940, pasar tidak bergerak dalam kata-kataku, dibunuh di atas kertas, seperti vampir, aku menghisapi darah dan memadamkan lampu Orang-orang bermimpi tentang polusi lagi, tentang udara yang bisa dihirup meski belum dicuci, sementara di situ, dua ratus juta virus seperti kembang transparan yang kaurawat dengan rajin, apakah aku salah satu kupu-kupu di situ, dunia telah menjadi taman favoritmu untuk menanam segalanya, dendam, hutan-hutan untuk dilelang, bayi-bayi, jalan ribuan kilometer  ke masa depan untuk dihapus Kenapa tidak kau bawa aku juga kalau kau memang menuju ke tempat yang tidak ada, instagram dan twitter membawa orang-orang ke kamar mandiku, hanya untuk berbagi sabun dan odol dengan kesepian, dan jalan-jalan ke luar angkasa juga dipangkas, untuk menghemat pikiran, orang-orang menghias koran dengan cuaca buruk, anak-anak de...

Memutar Ingatan 20 Tahun: Dadah Sayang

Seorang gadis kecil lari keluar masuk sebuah rumah. Teman-temannya di halaman belakang, sebuah latar penuh guguran daun jambu biji. Ada dua ayunan dari ban bekas tergantung di dahan jambu yang paling kokoh. Di satu sudut, guntingan sisa bahan kulit bertumpuk dalam karung. Anak-anak itu sering membantingkan tubuh di sana. Menganggapnya sebagai sofa. Ia berlari, lewat sisi kiri bangunan rumah itu. Melewati para pekerja yang sedang serius memukul-pukulkan palu pada balokan kayu  berbentuk kaki. Tumpukan lembaran kulit di sana-sini. Guntingan pola. Bau lem yang menggugah candu. Dari sisi dalam rumah sayup radio memutar campur sari. "..dah.. dadah, sayang ..dah... slamat jalan.." Ia keluar, menyeberang ke rumah depan. "Ojo mblayu-mblayu nang njero omah,"  seorang ibu tua sambil menumbuk bumbu menegurnya. Ia meneguk segelas air. "Opo wong aku dulin nang mburi, kok. Mek mulih ngombe." Ia keluar lagi, menyeberang menuju rumah dengan tumpukan lemb...

Rumah Sajak-sajakmu

"Aku bosan. Beri aku buku puisi yang menarik." Tiba-tiba seorang laki-laki mengirim pesan begitu. Saya kirimkan beberapa buku digital buatnya. Dia lantas sambat, "Aku tidak menulis dan jengah membaca." Hmm. Kalimat yang akrab. Saya langsung sarankan agar ia mencari rekan membaca dan menulis. Ya, to the point saja. Saya paham betul betapa benar bahwa kita tidak sanggup sendirian meskipun puisi, faktanya, diketik dengan mandiri dan sunyi. Dia malah ngeles . Dia bilang itu sulit. Ibarat mencari partner hidup. Waduh! Sebenarnya, iya juga, sih... Saya tawarkan agar memulai dari orang terdekatnya dulu. Pacar -mungkin. Dia layak mengusahakan agar kekasihnya menjadi rumah bagi sajak-sajaknya. Sebab saya pun menulis tidak bisa menepikan kebutuhan bahwa puisi saya butuh rumah untuk pulang. Butuh pembaca setia. Bahwa sangat menyiksa ketika orang terdekat kita ternyata tidak bisa menjadi wadah kerumitan yang selalu muru ini. Kita butuh seseorang yang menghargai ...

Zona Merah

Barangkali memang, sejarah tidak terjadi setiap hari. 24 Maret 2020, Ujian Nasional untuk semua jenjang sekolah ditiadakan.  Kita terancam membeku sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mendadak kita semua menjelma serumpun anak kembang Ester, menanti musim panas yang tiap pagi makin terasa jauh. Makin terasa, tidak akan datang. (4 hari lalu, Surabaya dilabeli sebagai zona merah persebaran Korona. Kemarin malam, peta sebaran per kelurahan diluncurkan. Sejak 4 bulan lalu saya sudah menduga wabah ini akan serius. Sayang, saya tidak menyiapkan diri bahwa di negeri ini, barangkali, saat itu cuma saya yang menganggapnya serius) 27 Maret 2020, Hari Teater Dunia. Merapi erupsi. Atas inisiatif yang serampangan, rombongan teater saya menggarap proyek kilat, rekaman akustik drama. Naskah turun pukul 2 siang. Laporan terkini penderita korona 893 orang. Dua jam kemudian jadi 1046 orang. 28 Maret 2020, kita tidak merayakan Earth Hour. Tidak ada dunia hari ini. Merapi erupsi lag...

Hopla