Langsung ke konten utama

Postingan

Poneglyph yang Tercecer

  Thanks for the memories.. thanks for the memories.. (Fall Out Boys) Hal kecil lainnya yang saya terima adalah bahwa saya orang yang serakah, dengan ingatan jangka pendek yang demikian buruk, saya diam-diam bercita-cita untuk mengingat setiap detil peristiwa, setiap kata dari buku yang saya baca, setiap warna yang menggugah emosi.  Suatu hari seseorang memuji cara pandang saya pada sejarah, ruang-ruang dunia yang luput tapi ada, korelasinya buat hari kini. Bagaimana saya sedemikian terpesona: betapa yang terjadi sebelumnya bisa berpengaruh pada hal-hal kemudian. Betapa dunia ini adalah keterhubungan.  Namun saya kira pujian itu amat berlebihan, sebab bagaimana saya memandang sejarah bukan suatu hal khusus yang bersumber pada kebaikan diri. Hasrat untuk memeluk ingatan dan masa lalu itu datang dari terowongan memori saya yang pendek. Yang tidak mampu mewujudkan hasrat itu. Penghargaan pada masa lalu lahir dari fakta gagal menggenggam masa lalu. Ketika saya terbangun suatu...

Memasuki Ruang Oposisi Hari Ini dalam Naskah Lakon Lahirnya Kematian Karya Yusril Ihza

Kritik Buku Judul         : Lahirnya Kematian Penulis         : Yusril Ihza F. A. Tahun Terbit     : 2020 Penerbit     : Tankali Halaman     : xii + 74 ISBN         : 9786237451365 Buku naskah lakon Lahirnya Kematian karya Yusril Ihza terbit pada pertengahan tahun 2020 (Penerbit Tankali). Naskah lakon ini merupakan pemenang ke-3 Sayembara Naskah Lakon DK-Jatim 2018. Penulisnya, selain dikenal lewat karya puisi, telah kerap menulis naskah dan menjadi sutradara teater bersama komunitas Teater Kaki Langit yang bermarkas di Surabaya. Sebelum ini Yusril juga menerbitkan secara terbatas naskah lakonnya Di Seberang Sana (September 2019) dalam wadah diskusi Majelis Sastra Urban Surabaya.  Sebagai seorang penulis millenial, memiliki dua buku naskah lakon yang diterbitkan sebagai satuan buku adalah poin istimewa. Pada kesempatan penerbitan buku naskah lakon ...

Titik Jenuh Pandemi

Beberapa teman mengeluh tentang keinginan untuk menyendiri sementara  sebenarnya selama masa pandemi ini kita bisa dibilang jauh dari interaksi. Tapi toh saya juga merasa begitu. Ingin menjadi orang asing sehari dua hari. Tanpa hubungan-hubungan serius. Tanpa label-label identitas.   Barangkali ini adalah momen di mana beberapa orang termasuk saya memasuki titik jenuh (kompromi) pandemi. Melakukan atau tidak melakukan apapun kita dalam beberapa bulan ini, energi kita ternyata dikuras oleh sosok yang tidak akrab. Sebab bagaimanapun juga, sesuatu berubah. Bahwa penyair favorit kita telah tiada misalnya. Dan pertanyaan-pertanyaan mesti kita relakan jadi gema tanpa bidang pantul. Namun seorang teman mengusik tentang hakikat energi semalam, membuat saya membayangkan kebingungan, kecemasan, ketakmengertian adalah materi yang kita lepas. Adalah energi. Dalam beberapa waktu belakangan ini, ke mana semua itu bergerak?  Berbagai perubahan dan anomali seperti butir manik yang d...

Inner Child - Hari Anak Nasional

Selama Hari Anak Nasional! (Seandainya itu berarti sesuatu) Inner child, jiwa kanak-kanak dalam diri kita. Seberapa jauh orang dewasa merenungkan sisi anak-anak dalam dirinya. Sosok yang memang pernah ada dan hari ini menjadi figur itu: usia, cita-cita, visi, tanggung jawab, pengetahuan, kebimbangan, pengalaman, yang memberi jarak antara hari ini dan masa lalu. Kita hari ini. Inner child bukanlah topik asing bagi mereka yang sering membaca tentang informasi psikologis dan spiritual. Bagian dari usaha mengenali diri dan keseimbangan jiwa. Namun barangkali masih kurang dari 30% atau bahkan 20% orang Indonesia mengenal konsep itu. Apalagi merenungkannya. Barangkali ada yang kebetulan membaca tulisan ini, tak ada salahnya memahami apa itu jiwa kanak-kanak dalam diri kita. Secara sederhana, ia adalah diri kita sendiri, yang berasal dari masa lalu. Sosok dengan impian dan semangat murni. Sebelum terpolusi oleh semua itu: usia, cita-cita, visi, tanggung jawab, pengetahuan, kebimbangan, pengal...

Ketidaknormalan Baru

Selamat datang di bulan Juni. Sebuah akun Instagram menyebut: kita telah tiba di level 6 Jumanji. Barangkali memang retrograde yang terjadi di paruh akhir 2019 kemudian mengantar kita pada semacam pusaran timeskip. Kita ditahan entah untuk berapa lama. Saya pribadi belum siap untuk kejutan. Meski saya sudah pelan-pelan bergerak dari sebuah ladang rumput tempat rebah sepanjang siang, menghitungi awan dan burung yang lewat. Beberapa proyek saya kerjakan lagi dengan perasaan dan kesadaran yang "kembali". Tapi saya tidak sabar untuk membuka pintu dan mendapat jaminan penuh bahwa segalanya, semua, sudah kembali ke tempat semula. Kemudian saya akan sanggup menyambut ketidaknormalan lain dalam hidup saya seperti sedia kala. Sebab semua dimaknai ulang dari sini. Apakah saya siap memeluk mimpi dan harapan baru? Semangat dan kegigihan yang sebelumnya melekat bagai keringat dari kelenjar di bawah kulit saya sendiri, apakah masih bisa seasin itu? Apakah yang membuat seseorang mence...

Hati yang Baik

Keikhlasan, ketulusan, penerimaan, kerelaan, keesaan, cinta, pemberian, rasa percaya, kebaikan, penyerahan, semua, barangkali, sudah saya pelajari dalam dua puluh lima tahun ini, tetapi mendadak semua pemahaman dan pengetahuan itu hilang. Tuhan, barangkali, memberi saya kesempatan untuk menemukan ulang segalanya. Saya mengingat dengan baik tetapi hakikat dari ingatan itu lenyap entah ke mana. Seperti saya melihat seseorang yang memberi dengan tangan kanannya, lalu karena sedemikian ingin agar tangan kirinya tidak perlu tahu tentang pemberian itu, ia memotong tangan kirinya. Demi menjaga kemurnian pemberiaannya. Saya ingat kebenaran akan pertimbangan pilihannya itu tetapi saya tidak mampu lagi menyelami rasa sakit kehilangan tangan kiri. Lalu Tuhan memberi saya kesempatan untuk menemukan jawaban dari ingatan-ingatan yang cacat itu. Dan dari hari ke hari saya mengumpulkan kepingan. Saya berpikir bagaimana mungkin saya sanggup memotong tangan kiri saya sendiri. Tetapi ternyata dunia m...

Tenaga

Seolah saya melihat seorang anak terjatuh. Saya berteriak kepada seluruh dunia, "Tolong! Tolong anak itu! Tolong!" Saya ingat semua hal yang pernah saya yakini. Keteguhan. Saya bilang pada banyak orang, keajaiban akan datang dari apa yang kamu percayai. Yang kamu butuhkan hanya "percaya". Tetapi di sebuah cermin saya melihat bayangan diri saya yang kecil dan lemah. Yang tidak memiliki tenaga lagi untuk memegang apapun dengan dua tangannya. Saya bahagia melihat orang-orang jatuh cinta. Saya katakan pada mereka, cintailah. Hiduplah dengannya. Sekuat tenaga saya ingin seluruh dunia percaya pada cinta. Bahwa cinta itu menggerakkan sesuatu di luar kedua tangan kita. Tetapi saya, saya sendiri telah habis tenaga. Saya tidak punya daya untuk bangun tiap pagi dan berhalusinasi tentang kebahagiaan. Bagaimana mungkin orang yang tidak punya tenaga untuk meneguhkan diri lagi, hidup setiap hari dengan mencintai seseorang? Saya tidak punya tenaga untuk mempercayai cinta, tetap...

Hopla