Langsung ke konten utama

Kekasih Semar


Kekasih    : Wahai, Semar, di lereng Maliawan itu, seekor kera tengah menangis. Air matanya turun, menggantikan kebeningan Gangga, hingga bunyi riaknya menjadi diam. Bolehkah aku mereguk dan meminumnya, Semar, apakah kesedihan bagi penghuni bumi yang membuat kesuburan tak mau bicara lagi?

Semar       : Kesedihan, kebahagiaan, kemenangan, kemarahan, iri, putus asa, hanya bayang-bayang.

Kekasih    : Dan kera itu melihat ketidaksempurnaan bayangannya, terpantul di permukaan air.

Semar       : Maka ia sedang menghadapi ketidaksempurnaannya sendiri.

Kekasih    : Tapi mengapa harus ada air mata? Tidakkah ia memahami ketidaksempurnaan adalah karunia yang dianugerahkan bagi kehidupan.

Semar       : Ketidaksempurnaannya tidak menjelma kerinduan.

Kekasih    : Tidakkah kerinduan juga bayang-bayang?

Semar       : Kerinduan adalah pertapaan. Dunia putih di mana bulan dan matahari bersatu, langit dan bumi bersatu, Timur dan Barat bersatu. kuning dan hitam bersatu, dan menjelma tiada. Kerinduan mempertemukan yang kanan dan yang kiri, yang benar dan yang salah, menjadi kelapangan. Jagatraya tempat Yang Paling Besar dan Yang Paling Kecil bisa berdiam.

Kekasih    : Semar, di mana bayang-bayangmu?

Semar       : Sudah takluk.

Kekasih    : Maka kaulah kerinduan?

Semar       : Bukan.

Kekasih    : Atau kau bayang-bayang?

Semar       : Aku hidup menghidupkan bayang-bayang.

Kekasih    : Biar aku menjadi bayanganmu. Aku ingin hidup.

Semar       : Tidak ada makhluk memilih bayang-bayangnya, atau bayang-bayang memilih makhluknya.

Kekasih    : Semar, aku pincang.

Semar       : Aku juga pincang.

Kekasih    : Aku ingin kerinduan.

Semar       : Aku juga menghidupkan kerinduan.

Kekasih    : Kalau begitu aku akan berjalan di jagatraya mencari Yang Paling Besar dan Yang Paling Kecil.

Semar       : Saat kau sampai, mungkin mereka sudah pergi.

Kekasih    : Tidak masalah. Barangkali yang boleh dimiliki adalah perjalanan, yang melampaui pertemuan dan perpisahan.



2019



Komentar

Hopla

Postingan populer dari blog ini

Kepada Kekasihku yang Jauh

Kalau mungkin kau berada di bawah langit, gerakan awan yang menarik angin ke tanganmu, dan daun-daun yang bicara besertanya, adalah tanda kerinduanku yang diam, sekian lama terabai di udara. Ia telah demikian sabar, dilelehkan dari waktu ke waktu. Ia adalah musim yang berjalan mencari sebuah kota. Tanpa arakan. Sebab dunia meninggalkannya seperti seorang anak yatim. Kalau mungkin di bawah langit ini, kau memandangnya suatu kali. Kita telah saling bertemu di situ, dan tidak saling mengenal nama dan asal. Dan barangkali tanpa sengaja aku meninggalkanmu dalam seribu pertanyaan.  Kekasihku, yang berdiam di mata angin, adakah kau dibimbangkan matahari? Terbatas oleh utara, selatan, timur, dan barat. Aku di sini, berjalan semakin dekat padamu dari seluruh penjuru. Bila mungkin kakimu diikat oleh ibu yang sama denganku, kita adalah jarak paling jauh yang tercatat di bumi. Tanah dan lautan yang juga melekat bersama dengan cinta kita: ada dan belum ada, kita telah membayangkannya sekian l...

Bertemu 'U' Ganteng

Saya memanggil namanya dan dalam sebuah diskusi dengan rekan perempuan saya, kami menambahkan kata 'Ganteng' untuk mengenalinya. Bukan karena dia ganteng tapi sebab kami melihat dia memiliki sesuatu. "Kamu itu laki-laki potensial. Dunia tidak tahu, tapi kami tahu."kelakar kami dulu. Ternyata kami tidak saling bertemu selama dua tahun. Kemarin saya terjebak di kampus karena harus menunggu seorang penyair yang tidak bisa dipastikan datang-hilangnya. Sementara 'U' Ganteng, laki-laki yang dua tahun lebih muda dari saya itu muncul di kampus lagi setelah pulang dari pengembaraan, untuk menyelesaikan sesuatu. Pengembaraan, itu diksi yang pantas. Dia ceritakan sedikit kesibukan formalnya, usaha-usaha dan protesnya buat dunia. "Kamu lebih kurus. Lebih hitam. Tapi garis wajahmu itu, lebih tegas dibanding ingatan terakhirku," saya mengomentari figurnya sambil membatin: matamu itu, lebih matang. Lebih laki-laki. Dia tertawa lalu bertanya masakah saya p...

Norwegian Wood Sadness

Kesedihan, tidak pernah saya selami demikian dingin dan putih. Beberapa waktu lalu seorang teman merekomendasikan film Norwegian Wood (2010) garapan sutradara Tran Anh Hung. Sebuah pusaran ke dasar laut yang penuh dengan salju, hutan beku, dan jalan-jalan sepi. Dahi saya mengernyit di menit akhir saat Watanabe, tokoh utama pria, memukul-pukulkan tubuhnya ke tebing karang. Menahan kesakitan luka yang tidak kelihatan. Ada film lain, dengan dingin dan metrum yang mirip, A Man and a Woman (2016), salah satu film favorit saya. Meski bukan film yang wah, saya kadung jatuh cinta pada cara sutradara membatasi konflik perselingkuhan dalam film itu. Juga pada bagian akhirnya. Tempo yang tidak membuat saya kecewa. Saya bahkan mengingat lagu latarnya hingga hari ini, du dudu dudu, dudu dudu... Tapi beberapa peristiwa menjelmakan Norwegian Wood nyata di depan saya. Hari ini saya katakan, kesedihan Watanabe, gunung beku yang ia bentur-benturkan itu, sangat saya pahami. Kesedihan yang justru b...