Langsung ke konten utama

3 Pagi

Suatu hari jam-jam ini akan direnggut. Gigil yang saya nikmati sebelum subuh menjadi. Sebuah lingkaran daya, tumbukan antarwaktu. Sebuah masa kejut, distorsi dari Januari yang mendadak Desember dalam puisi "Buat Ning" yang ditulis Sapardi.

Saya kira sebenarnya dunia ini sudah demikian lowongnya memberi kita kelonggaran untuk hidup nikmat seperti apa yang kita angankan. Cuma, tidak semua orang lahir dengan kesempatan kompromi yang sama. Ada orang-orang yang dibebaskan dari pertimbangannya, ada yang tidak bisa. Bagi yang tidak bisa, itu adalah pilihan untuk menghapus diri sendiri.

Kenapa kita diberi kebaikan hati? Dan kepedulian, untuk tidak meninggalkan seseorang di belakang.

Kadang ada sebuah ruang yang sama sekali tidak bisa kita tutup pintunya. Atau ini hanya karena kita terlalu takut dan meragukan hubungan-hubungan kita.

Jam 3 pagi yang saya sukai, kokok ayam samar-samar dan bayangan ribuan mimpi orang-orang sedang mengambang di udara luar sana. Merasakan bahwa dalam sekian jarak saya satu-satunya yang terjaga dan menarik nafas dengan sadar. Memiliki udara dan kesadaran ini sendirian. Waktu jadi lambat sekali.

Kenapa kita tidak bisa menutup mata saja,

2019

Komentar

Hopla

Postingan populer dari blog ini

NIRLEKA

Nirleka, begitu disebutnya rentang masa purba sampai ± abad 4 M saat nusantara belum diberkahi pengetahuan aksara. Berakhir dengan penemuan sebuah batu yupa kerajaan Kutai. Nirleka cenderung sulit dibaca bagi para sejarahwan. Di ruang-ruang kuliah ia masih menjadi kamar gelap yang menggoda. Minim bukti, minim jejak. Kaya rahasia. Namun nirleka tidak hanya terjadi di wilayah nusantara saja. Seluruh dunia, di tempat-tempat yang pernah tercatatkan peradaban, pernah mengalami masa buta aksara. Memang sedikit yang berhasil mengisi sejarah puncak keberaksaraan. Nusantara mungkin salah satunya meski sejarah hari ini belum benar-benar jelas memaparkan kronologinya. Maka dalam ketidaktahuan bersama ini, menarik mereka-reka apa yang terjadi di masa nirleka. Saat itu manusia tidaklah sama sekali tanpa bahasa. Pembicaraan tetap terjadi. Perdebatan apalagi. Tapi itulah, sedikit sekali catatannya. Jika dunia kita yang diam ini pernah merekam, maka yang ramai adalah bunyi, dan tentu: ingatan....

Satu Dunia

Saya bertanya-tanya dari mana datangnya keinginan untuk mengajak seluruh dunia ikut bersedih bersama kita? Hari ini apa yang tidak dibagi kepada seluruh dunia? Isi kamarmu, isi dompet, isi celana, isi kepala, isi hati - yang berisi dan tidak berisi. Saya pun berbagi. Tapi apakah saya ikut dalam lingkaran kebaikan yang genit itu? Saya tidak bisa mengukur diri sendiri.  Keinginan untuk berbagi kadang melemparkan saya kepada kenaifan mencolok dan tampil aneh di dunia yang lapang dada ini. Dan saya orang yang paling sempit. Saya sungguh ingin berbagi yang baik-baik. Mereka yang membagi isi kamar, isi dompet, isi hati kepadamu, pasti juga berpikir bahwa itu baik dibagi(?). Tapi memangnya apa itu kebaikan. Apakah arti kebaikan ? Semua orang sedang menikmati apapun yang dihidangkan di depan. Lalu saya masih punya pertanyaan, kenapa seseorang ingin membagikan kesedihan? Kita tidak diciptakan untuk kuat menanggung hidup sendirian, tapi apakah boleh mengajak seluruh dunia; kesedihan seperti ...

Tangan

Bagimu, ada hal-hal yang terlalu sulit. Sebab dalam ikatan dengan dunia, batas adalah nas. Pertimbangan-pertimbangan penting dan tidak penting, menghalangi dan mendorongmu kepada sesuatu. Lalu kamu pikir terlalu tidak mampu. Terlalu lemah bahkan untuk menyerah.  Duh, Jagad. Saya sedang dipenuhi kebencian karena ketidakmampuan. Kemarin sore, seorang sales motor mengajukan kertas promosi di pinggir jalan. Saya berkendara pelan, menatap tangan yang terulur itu dari jauh. Lalu saya melewatinya tanpa membalas mengulurkan tangan juga. Saya lalu berpikir, sesore itu, laki-laki sales harus berdiri dan saya mengurangi keberuntungannya dengan membiarkan ia mengulurkan tangan dalam ruang hampa. Tapi kenapa, Jagad, kenapa saya harus menolongnya, membalas uluran tangan itu? Saya kehilangan gairah pada kebaikan. Saya sedang ingin jadi menyebalkan sampai setidaknya ada yang mau percaya bahwa saya sedang menderita kutukan. Duh, mega-mega susah. Kenapa seseorang harus hidup dengan harapan dan ...