Langsung ke konten utama

Papan Dadu

Seminggu seperti papan dadu. Seseorang menasehati saya dengan kalimat yang saya bikin sendiri. Seperti melihat dirimu memanggil namamu sendiri. Mengatakan bahwa semua pilihan tidak pernah mudah, sekalipun telah begitu jelas. Seperti mengajarimu mengeja lagi.
Ada orang-orang dari masa lalu muncul. Mereka seperti angka jam, 11, 10, 9, 8... menarik saya ke belakang. Bukan ke depan. Ke kiri, bukan ke kanan. Saya adalah jarumnya, tidak kuasa menunjuk arah. Lalu tanpa bisa menghindar, saya mengenali hal-hal yang masih sama dan yang telah berubah. Tapi segalanya tidak pernah titik awal. Tidak pernah. Seperti dalam kekalahan dadu, kau tidak pernah balik kaya lagi. Dalam kemiskinanmu ini, kau hanya punya kesempatan untuk menang, bukan mengambil kembali harta lamamu. Kemenanganmu hari ini bukan apologi, apalagi anulir. Ada selalu, kenyataan bahwa kau pernah kalah. Kau hari ini kalah. 
Saya tidak tahu kenapa kunjungan dari masa lalu ini terjadi saat saya justru harus mengambil langkah besar bagi masa depan. Saya pikir-pikir, mungkin Tuhan hendak menjadikannya semacam diorama yang mendukung optimisme saya, atau godaan. Ah, tentu godaan. Sebab masa lalu selalu kertas jebakan lalat. Sebenarnya ia terpisah dari hidanganmu, kenapa kamu masih saja terperangkap di situ?
Tapi soal papan dadu, saya tidak tahu, saya ini pemain, pion, dadu, taruhannya, papannya, atau apa. 

2018


Komentar

Hopla

Postingan populer dari blog ini

Kepada Kekasihku yang Jauh

Kalau mungkin kau berada di bawah langit, gerakan awan yang menarik angin ke tanganmu, dan daun-daun yang bicara besertanya, adalah tanda kerinduanku yang diam, sekian lama terabai di udara. Ia telah demikian sabar, dilelehkan dari waktu ke waktu. Ia adalah musim yang berjalan mencari sebuah kota. Tanpa arakan. Sebab dunia meninggalkannya seperti seorang anak yatim. Kalau mungkin di bawah langit ini, kau memandangnya suatu kali. Kita telah saling bertemu di situ, dan tidak saling mengenal nama dan asal. Dan barangkali tanpa sengaja aku meninggalkanmu dalam seribu pertanyaan.  Kekasihku, yang berdiam di mata angin, adakah kau dibimbangkan matahari? Terbatas oleh utara, selatan, timur, dan barat. Aku di sini, berjalan semakin dekat padamu dari seluruh penjuru. Bila mungkin kakimu diikat oleh ibu yang sama denganku, kita adalah jarak paling jauh yang tercatat di bumi. Tanah dan lautan yang juga melekat bersama dengan cinta kita: ada dan belum ada, kita telah membayangkannya sekian l...

Bertemu 'U' Ganteng

Saya memanggil namanya dan dalam sebuah diskusi dengan rekan perempuan saya, kami menambahkan kata 'Ganteng' untuk mengenalinya. Bukan karena dia ganteng tapi sebab kami melihat dia memiliki sesuatu. "Kamu itu laki-laki potensial. Dunia tidak tahu, tapi kami tahu."kelakar kami dulu. Ternyata kami tidak saling bertemu selama dua tahun. Kemarin saya terjebak di kampus karena harus menunggu seorang penyair yang tidak bisa dipastikan datang-hilangnya. Sementara 'U' Ganteng, laki-laki yang dua tahun lebih muda dari saya itu muncul di kampus lagi setelah pulang dari pengembaraan, untuk menyelesaikan sesuatu. Pengembaraan, itu diksi yang pantas. Dia ceritakan sedikit kesibukan formalnya, usaha-usaha dan protesnya buat dunia. "Kamu lebih kurus. Lebih hitam. Tapi garis wajahmu itu, lebih tegas dibanding ingatan terakhirku," saya mengomentari figurnya sambil membatin: matamu itu, lebih matang. Lebih laki-laki. Dia tertawa lalu bertanya masakah saya p...

Elliot: Drama Psikotik-Realis dan Kegilaan Kita yang Lembut

Catatan untuk Naskah Drama "Elliot" karya Dyah Ayu Setyorini. Pementasan perdana naskah "Elliot" oleh No-Exit Theatre, Mei 2019 Teater mewujud pada seutas tali yang menegang antara nilai dan realita nilai. Ia menyentuh langsung dan ikut tergores di setiap tarikannya. Ia mengancam kita di panggung itu, saat kita justru menjadikannya jalan menyelamatkan diri. Seorang perempuan hampir menyerah, tidak sanggup menguasai kecemasannya saat dipercaya untuk memainkan tokoh Emma, tokoh utama dalam naskah "Elliot" karya Dyah Ayu Setyorini. "Aku takut gila, seperti Emma," katanya pelan sambil menahan tawa dan malu. Dalam khasanah naskah drama Indonesia, banyak naskah yang menghadirkan sosok orang gila sebagai tokoh. Namun sepanjang pengetahuan saya, belum ada yang berusaha secara utuh menghadirkan kegilaan dalam kepala tokoh ke ruang riil panggung sehingga penonton merasakan citra nyata (realis) atas hal-hal psikologis. Akar naskah ini ...