Langsung ke konten utama

Yang Biasa

Pagi ini saya libur mengajar. Sejak semalam saya diliputi firasat malas. Semakin dekat sekolah saya semakin ingin balik pulang. Duh, saya benci kalau firasat saya benar. Saya jadi menumpuk alasan menyombongkan diri. 

Saya manusia-tanpa-rencana-asik akhir-akhir ini. Dan saya merasa sangat terganggu. Sebabnya adalah saya sedang menunggu kabar jauh. Jadi saya kehilangan hasrat untuk menikmati hari. Saya buru-buru ingin mencapai kejauhan itu. Jarak dari sini ke sana jadi saya tepikan. Ibarat perjalanan, saya dibutakan oleh tujuan. Sial. Saya jadi melewatkan banyak sekali: pulau-pulau jalan, monumen kota, orang-orang aneh yang kebetulan bertemu di lampu merah - sebuah keintiman yang dalam dan luput. Sial.

Jelas ini bukan diri saya. Sanjungan bagi mereka yang bisa hidup dengan titik target. Saya menyerah. Saya bisa terbunuh dengan jalan ini. Apakah saya lebih pengecut dibanding orang-orang itu? 

Saya cuma ingat menikmati hidup sebagai momen. Membiarkan diri saya dipeluk ketidaktahuan dan terus menunggu sebuah kejutan. Saya naik tangga, tidak melihat lantai di atas sana. Saya naik, naik, naik, menghikmahi setiap anak tangga. Mungkin sebenarnya saya tidak ingin mencapai lantai di atas sana. Saya suka naik saja. Naik, naik, menghikmahi setiap anak tangga. 

Komentar

Hopla

Postingan populer dari blog ini

NIRLEKA

Nirleka, begitu disebutnya rentang masa purba sampai ± abad 4 M saat nusantara belum diberkahi pengetahuan aksara. Berakhir dengan penemuan sebuah batu yupa kerajaan Kutai. Nirleka cenderung sulit dibaca bagi para sejarahwan. Di ruang-ruang kuliah ia masih menjadi kamar gelap yang menggoda. Minim bukti, minim jejak. Kaya rahasia. Namun nirleka tidak hanya terjadi di wilayah nusantara saja. Seluruh dunia, di tempat-tempat yang pernah tercatatkan peradaban, pernah mengalami masa buta aksara. Memang sedikit yang berhasil mengisi sejarah puncak keberaksaraan. Nusantara mungkin salah satunya meski sejarah hari ini belum benar-benar jelas memaparkan kronologinya. Maka dalam ketidaktahuan bersama ini, menarik mereka-reka apa yang terjadi di masa nirleka. Saat itu manusia tidaklah sama sekali tanpa bahasa. Pembicaraan tetap terjadi. Perdebatan apalagi. Tapi itulah, sedikit sekali catatannya. Jika dunia kita yang diam ini pernah merekam, maka yang ramai adalah bunyi, dan tentu: ingatan....

Satu Dunia

Saya bertanya-tanya dari mana datangnya keinginan untuk mengajak seluruh dunia ikut bersedih bersama kita? Hari ini apa yang tidak dibagi kepada seluruh dunia? Isi kamarmu, isi dompet, isi celana, isi kepala, isi hati - yang berisi dan tidak berisi. Saya pun berbagi. Tapi apakah saya ikut dalam lingkaran kebaikan yang genit itu? Saya tidak bisa mengukur diri sendiri.  Keinginan untuk berbagi kadang melemparkan saya kepada kenaifan mencolok dan tampil aneh di dunia yang lapang dada ini. Dan saya orang yang paling sempit. Saya sungguh ingin berbagi yang baik-baik. Mereka yang membagi isi kamar, isi dompet, isi hati kepadamu, pasti juga berpikir bahwa itu baik dibagi(?). Tapi memangnya apa itu kebaikan. Apakah arti kebaikan ? Semua orang sedang menikmati apapun yang dihidangkan di depan. Lalu saya masih punya pertanyaan, kenapa seseorang ingin membagikan kesedihan? Kita tidak diciptakan untuk kuat menanggung hidup sendirian, tapi apakah boleh mengajak seluruh dunia; kesedihan seperti ...

Tangan

Bagimu, ada hal-hal yang terlalu sulit. Sebab dalam ikatan dengan dunia, batas adalah nas. Pertimbangan-pertimbangan penting dan tidak penting, menghalangi dan mendorongmu kepada sesuatu. Lalu kamu pikir terlalu tidak mampu. Terlalu lemah bahkan untuk menyerah.  Duh, Jagad. Saya sedang dipenuhi kebencian karena ketidakmampuan. Kemarin sore, seorang sales motor mengajukan kertas promosi di pinggir jalan. Saya berkendara pelan, menatap tangan yang terulur itu dari jauh. Lalu saya melewatinya tanpa membalas mengulurkan tangan juga. Saya lalu berpikir, sesore itu, laki-laki sales harus berdiri dan saya mengurangi keberuntungannya dengan membiarkan ia mengulurkan tangan dalam ruang hampa. Tapi kenapa, Jagad, kenapa saya harus menolongnya, membalas uluran tangan itu? Saya kehilangan gairah pada kebaikan. Saya sedang ingin jadi menyebalkan sampai setidaknya ada yang mau percaya bahwa saya sedang menderita kutukan. Duh, mega-mega susah. Kenapa seseorang harus hidup dengan harapan dan ...