Seperti memasuki sebuah ruang yang jujur dan amat bersih. Kita duduk, memaknai keindahan dari sebuah sudut temaram. Segalanya menampakkan diri dalam gerak yang lamban dan sabar. Itu karena hati menjadi lebih lembut dari biasanya. Menghayati garis tangan seseorang, setiap inci dirinya, bahkan lipatan kulit di bawah matanya yang sulit dinarasikan. Betapa ia adalah ciptaan yang paling mempesona. Bahwa ia bernafas. Bahwa seumur hidupnya telah mengalami ribuan peristiwa yang membentuk dan mengubah hatinya, membawanya sampai kepadamu, dari jarak yang jauh melebihi bayangan. Bahwa ia adalah rahasia dari seluruh dunia yang membuatmu mengagumi kebodohanmu. Merasakan telunjuk di kulitnya, bahwa ia benar-benar ada dan nyata. Kita takut merusak pemandangan itu, kalau jemarimu terlalu keras menyentuh, kalau kau berkedip, ia mungkin akan memudar seperti pasir tersiram hujan di jalan. Kita terus-menerus mempertanyakan, di dunia yang mana ia lahir: keajaiban. Bahwa ia pernah terjatuh dan menangis ketika belajar berjalan. Kita penasaran pada suara tangisannya tapi tak ingin melihatnya menangis. Bagaimana ia tumbuh tanpa diriku? Ribuan keinginannya gagal terpenuhi, kita ingin mendaftarnya satu persatu. Adakah orang-orang lain yang ia cintai, mengapa seluruh dunia tidak datang ke kakinya. Bahwa ia menderita dan bertahan selama ini. Kita akan menjadi orang yang paling giat membantunya. Melakukan apapun dan menjadi lebih lemah. Dan bahwa seluruh kesalahannya termaafkan.
Kalau mungkin kau berada di bawah langit, gerakan awan yang menarik angin ke tanganmu, dan daun-daun yang bicara besertanya, adalah tanda kerinduanku yang diam, sekian lama terabai di udara. Ia telah demikian sabar, dilelehkan dari waktu ke waktu. Ia adalah musim yang berjalan mencari sebuah kota. Tanpa arakan. Sebab dunia meninggalkannya seperti seorang anak yatim. Kalau mungkin di bawah langit ini, kau memandangnya suatu kali. Kita telah saling bertemu di situ, dan tidak saling mengenal nama dan asal. Dan barangkali tanpa sengaja aku meninggalkanmu dalam seribu pertanyaan. Kekasihku, yang berdiam di mata angin, adakah kau dibimbangkan matahari? Terbatas oleh utara, selatan, timur, dan barat. Aku di sini, berjalan semakin dekat padamu dari seluruh penjuru. Bila mungkin kakimu diikat oleh ibu yang sama denganku, kita adalah jarak paling jauh yang tercatat di bumi. Tanah dan lautan yang juga melekat bersama dengan cinta kita: ada dan belum ada, kita telah membayangkannya sekian l...
Komentar
Posting Komentar