Langsung ke konten utama

Nasihat bagi Orang Jatuh Cinta

Seorang penyair bertanya pada saya: apa beda cinta dan puisi?

Pikiran dan hati saya mendadak rumit ditanyai begitu. Saya merasa punya jawaban tapi saya tidak bisa menentukan narasi mana yang paling pas untuk dipilih dalam menjawab pertanyaan begitu. Apalagi dia penyair. 

Berhari-hari saya memikirkan beberapa jawaban. Saya membayangkan kemungkinan efek yang diciptakan dari setiap jawaban. Sekali saya kira cinta itu buat kapan-kapan, puisi itu non-temporal. Sekali saya pikir cinta itu satu, puisi itu banyak. Sekali saya ingin bilang cinta itu begini, puisi itu begitu.

Yang jelas, cinta dan puisi itu berbeda. Mana yang lebih genit di antara keduanya, tergantung situasi. Saya bisa tersita oleh puisi suatu kali, oleh cinta suatu kali. Tapi apakah saya bisa memilih antara cinta dan puisi, itu yang tidak bisa saya jawab. Bagi saya hari ini cinta telah menjadi gelombang yang tenang namun mengantar sebuah perahu ke seberang. Saya tidak pernah khawatir apakah cinta akan mengganggu puisi ataupun sebaliknya. Kenapa memangnya harus dipilih di antara keduanya?

Penyair itu mencurigai puisi saya. Saya tahu. Dalam hati juga saya berkata kenapa saya harus menjawab pertanyaannya. Jadi waktu itu saya berkelit, dia pikir saya tidak punya jawaban. Mungkin benar juga. Apalagi saya toh sedang jatuh cinta. 

Menenangkan diri ketika jatuh cinta dan menulis puisi memang situasi yang sulit sekali. Tapi sekarang ini saya sudah bisa menasihati diri sendiri, bahwa cinta buat kapan-kapan, meski mungkin akan tetap cuma satu, dan begini. Begini.

Komentar

Hopla

Postingan populer dari blog ini

Kepada Kekasihku yang Jauh

Kalau mungkin kau berada di bawah langit, gerakan awan yang menarik angin ke tanganmu, dan daun-daun yang bicara besertanya, adalah tanda kerinduanku yang diam, sekian lama terabai di udara. Ia telah demikian sabar, dilelehkan dari waktu ke waktu. Ia adalah musim yang berjalan mencari sebuah kota. Tanpa arakan. Sebab dunia meninggalkannya seperti seorang anak yatim. Kalau mungkin di bawah langit ini, kau memandangnya suatu kali. Kita telah saling bertemu di situ, dan tidak saling mengenal nama dan asal. Dan barangkali tanpa sengaja aku meninggalkanmu dalam seribu pertanyaan.  Kekasihku, yang berdiam di mata angin, adakah kau dibimbangkan matahari? Terbatas oleh utara, selatan, timur, dan barat. Aku di sini, berjalan semakin dekat padamu dari seluruh penjuru. Bila mungkin kakimu diikat oleh ibu yang sama denganku, kita adalah jarak paling jauh yang tercatat di bumi. Tanah dan lautan yang juga melekat bersama dengan cinta kita: ada dan belum ada, kita telah membayangkannya sekian l...

Bertemu 'U' Ganteng

Saya memanggil namanya dan dalam sebuah diskusi dengan rekan perempuan saya, kami menambahkan kata 'Ganteng' untuk mengenalinya. Bukan karena dia ganteng tapi sebab kami melihat dia memiliki sesuatu. "Kamu itu laki-laki potensial. Dunia tidak tahu, tapi kami tahu."kelakar kami dulu. Ternyata kami tidak saling bertemu selama dua tahun. Kemarin saya terjebak di kampus karena harus menunggu seorang penyair yang tidak bisa dipastikan datang-hilangnya. Sementara 'U' Ganteng, laki-laki yang dua tahun lebih muda dari saya itu muncul di kampus lagi setelah pulang dari pengembaraan, untuk menyelesaikan sesuatu. Pengembaraan, itu diksi yang pantas. Dia ceritakan sedikit kesibukan formalnya, usaha-usaha dan protesnya buat dunia. "Kamu lebih kurus. Lebih hitam. Tapi garis wajahmu itu, lebih tegas dibanding ingatan terakhirku," saya mengomentari figurnya sambil membatin: matamu itu, lebih matang. Lebih laki-laki. Dia tertawa lalu bertanya masakah saya p...

Norwegian Wood Sadness

Kesedihan, tidak pernah saya selami demikian dingin dan putih. Beberapa waktu lalu seorang teman merekomendasikan film Norwegian Wood (2010) garapan sutradara Tran Anh Hung. Sebuah pusaran ke dasar laut yang penuh dengan salju, hutan beku, dan jalan-jalan sepi. Dahi saya mengernyit di menit akhir saat Watanabe, tokoh utama pria, memukul-pukulkan tubuhnya ke tebing karang. Menahan kesakitan luka yang tidak kelihatan. Ada film lain, dengan dingin dan metrum yang mirip, A Man and a Woman (2016), salah satu film favorit saya. Meski bukan film yang wah, saya kadung jatuh cinta pada cara sutradara membatasi konflik perselingkuhan dalam film itu. Juga pada bagian akhirnya. Tempo yang tidak membuat saya kecewa. Saya bahkan mengingat lagu latarnya hingga hari ini, du dudu dudu, dudu dudu... Tapi beberapa peristiwa menjelmakan Norwegian Wood nyata di depan saya. Hari ini saya katakan, kesedihan Watanabe, gunung beku yang ia bentur-benturkan itu, sangat saya pahami. Kesedihan yang justru b...